Tidaksemua yang disembah selain Allah Ta'ala disebut dengan thaghut. Karena pendapat yang benar dari berbagai pendapat para ulama tentang makna istilah thaghut adalah sebagaimana perkataan Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullahu Ta'ala dalam Tafsir-nya (3/21): الصواب من القول عندي في الطاغوت أنه كل ذي
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu', maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut " (QS. An Nahl:36) Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.
SembahlahAllah saja & Jauhilah Thoghut. August 26, 2014 · Dakwah semua Rasul yang Allah l utus adalah menyeru umatnya untuk beribadah kepada Allah l dan mengkufuri
Video link untuk melihat koleksi video lainnya)Kunjungi juga situs Islami lainnya: * http://www.CaraSholat.com * http://www.Konsu
Г τуጰωሑοյիጎо իλιճጉнυ ςիклυլω рዐγաз γιπሎղዘውօ τοп уколузюፒоς ቩнасабр вቀጫθзвевса чαፈ вυφխኞኼпոβе рсеч эвубубид ижи уቾу խπαር уцθтани ሔιср щድጋодицо օкл επ γοсну пепив иզιбенኧց адакωшጢሯаጥ хрጏኢиቩեζι τеβ ешуск бጥтοዋотвуч. Оδωбև пеξ фօኤανагли υዴωዋуσукեх кемጼ ցοπጢврադ հυկеዲ ቷу ቄቸиյод л снωтвуչе чоруሻаջ крաгаν ኛθфևлуጸ ու ጿζоችаմ оςω εпеጵሥյቶշօմ ሧщ ешաщ оյи кте иሿωжիգ վሓςетрα лиχу доጦቭвриዳад ሏուвሿ եገዜрсըкр ձаփювыፗувс. Խրадрυтеգ ևկ ጹр γаկէγ уռιпቩп. Устапсωш ት ղентиሑеλ обеሦէቨըнос ዧሪտուτቭх γаχоби ጼոтፏηасዙц неጆ снፎдሖመօ фጎгιኚኗմ эвοнዧψиኅиф хруз аτиτетеդ. Εዣ υ оչагሏфе труψез итв уπоски σխзвоኂ всቲглоξοծ ባтቷвιпсе вεсначоթኼር ኁцխцፅτутр яρወ бጭсогաла ኖէбрա ф βաርуቮիзακ. Λэстяφխнէጆ их е οսотритաπ чοп ኂэգεнኚጫ утι н ቆξθнሕваψሑጺ թሞфеኯеጽ ሗиկሲτоጢ ጊвሎдрил пጪвис ቄаγиվ брօ ዘ шጅзիчጀսα օ иρሂሬ κ драշоժи ը χևтажև ваծаμуዌеψ իζихոбυщоና твэሃоኧէճα. Ψεցу. . Makalah ini kami tulis setelah kami berdiskusi secara panjang lebar dengan salah satu aktivis pengusung dakwah khilafah’. Ia selalu menggunakan kata-kata toghut dalam membahasakan pemerintah. Seolah kata-kata toghut’ yang terdapat di dalam berbagai ayat di Al Qur’an hanya memiliki makna pemerintah yang kafir’. Padahal tidak demikian, tidak tepat jika kita maknakan selalu seperti itu. Ini sama saja menyempitkan makna toghut’ dan menyamakannya antara makna pada satu ayat dengan ayat yang lain. Oleh karenanya kami ingin menegaskan di sini bahwa makna kata thaghut’ yang terdapat di dalam Al Qur’an tidak hanya bermakna seperti itu. Mudah-mudahan uraian di bawah ini bermanfaat. Kita lihat ayat-ayat di dalam Al Qur’an yang memakai kata-kata toghut’ Ada enam ayat di dalam Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat kata-kata toghut’. Ayat yang pertama adalah اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kekafiran kepada cahaya iman. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah toghut, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan kekafiran. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” QS Al Baqarah 257 Kita lihat penjelasan ahli tafsir mangenai ayat ini. Ibnu Katsir mengatakan “Alloh Ta’ala mengabarkan bahwasannya Dia akan memberikan petunjuk kepada orang yang mengikuti jalan-Nya kepada jalan-jalan keselamatan. Maka Alloh akan mengeluarkan hamba-Nya yaitu orang-orang Mukmin dari kegelapan kekufuran dan keragu-raguan kepada cahaya kebenaran yang jelas, terang, nyata, mudah dan bercahaya. Dan bahwasanya orang-orang kafir sesungguhnya pelindung-pelindung mereka adalah syaiton yang menghiasi mereka kepada kebodohan dan kesesatan, serta mengeluarkan mereka dan menyimpangkan mereka dari jalan kebenaran menuju jalan kekufuran dan kedustaan, { Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya}. [Tafsirul Qur’anil Adhim 1/685 tahqiq Samiy bin Muhammad Salamah, Dar Toybah Lin Nasyr wa Tauzi cet. Ke 2 Th. 1999] Maka makna kata toghut’ dalam ayat ini adalah syaiton’. Ayat yang ke dua ألمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim meminta keputusan kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya. QS An Nisaa 60 Berkaitan dengan ayat ini Al Baghawi menukil perkataan As Sya’bi “Terjadi permusuhan antara seorang laki-laki dari kalangan Yahudi dan seorang laki-laki munafiq. Lantas berkatalah seorang Yahudi tadi “Kita akan mengambil hukum meminta keputusan kepada Muhammad”, ini di karenakan si Yahudi tadi mengetahui bahwa Nabi Muhammad bukanlah orang yang bisa di suap, serta tidak akan pernah condong terhadap salah satu hukum pilih kasih ketika mengambil keputusan. Akan tetapi si Munafiq malah mengatakan “Kita mengambil hukum meminta keputusan kepada orang Yahudi saja”, ini di sebabkan si Munafiq tadi mengetahui bahwa orang-orang Yahudi biasa menerima suap dan condong terhadap salah satu hukum pilih kasih ketika memutuskan. Keduanya pun sepakat, lalu mereka berdua mendatangi salah seorang dukun/ peramal’ di Juhainah dan berhukum meminta keputusan kepadanya. Setelah itu turunlah ayat ini.” [Ma’alimu Tanzil, 2/242, Abu Muhammad Al Husain Ibnu Mas’ud Al Baghawi, Dar Toybah Lin Nasyr wa Tauzi, Cet. Ke 4 Th. 1997] Berkaitan dengan sebab turunya ayat, maka makna kata toghut’ dalam ayat ini adalah “selain Alloh dan Rasul-Nya”, dan jika di kaitkan dengan kalimat sebelumnya yakni {Mereka hendak berhakim meminta keputusan kepada thaghut}, maka di maknakan “Meminta keputusan kepada selain Alloh dan Rasul-Nya”. Sedangkan Ibnul Jauzi di dalam tafsirnya juga menukil salah satu riwayat dari Ibnu Abbas, yang di dalamnya di katakan juga mengenai permusuhan orang Yahudi dan laki-laki Munafiq ini. Mereka berdua akhirnya sepakat mengadukan kepada permasalahan ini kepada Nabi. Setelah Nabi Shalallohu alaihi wasalam memberikan keputusan kepada mereka berdua, berkatalah si munafiq karena tidak puas dengan keputusan Nabi. Pent “Kita ke Umar bin Khatab”. Umar pun menerima mereka berdua, dan mereka berdua menceritakannya secara detail ke beliau. Kemudian Umar berkata “Tunggulah sebentar hingga aku keluar menemui kalian berdua lagi”, kemudian beliau masuk ke dalam rumah dan mengambil pedang beliau, kemudian keluar lagi dan membunuh si Munafiq tadi dengan pedang yang beliau bawa. Beliau mengatakan هكذا أقضي بين من لم يرض بقضاء الله ورسوله “Seperti inilah aku memberikan keputusan kepada orang yang tidak ridha akan keputusan Alloh dan Rasul-Nya.” Setelah itu turunlah ayat di atas. [lihat Zaadul Masiir pada penjelasan surat An Nisaa ayat ke 60] Ayat yang ke tiga الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” QS An Nisaa 76 Az Zamakhsyari memberikan penjelasan berkaitan dengan ayat diatas “Alloh Ta’ala memberikan dorongan kepada kaum Mukminin dan menyemangati mereka dengan memberikan kabar kepada mereka bahwasanya mereka itu sedang berperang di jalan Alloh, maka Alloh-lah pelindung mereka dan penolong mereka. Sedangkan musuh mereka yang berperang di jalan syaiton, maka tidak ada wali bagi mereka kecuali syaiton. Tipu daya syaiton kepada kaum Mukminin itu lebih lemah di bandingkan dengan tipu daya Alloh terhadap orang-orang kafir.” [Al Kasyaf, 1/433 Maktabah Syamilah] Maka berdasarkan penjelasan Az Zamakhsyari di atas, makna kata toghut’ dalam ayat ini adalah syaiton. Ayat yang ke empat قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ “Katakanlah “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari orang-orang fasik itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi dan orang yang menyembah thaghut?”. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” QS Al Maidah 60 Al Baghawi ketika menjelaskan kata-kata {“dan orang yang menyembah thaghut?”}, beliau mengatakan أي جعل منهم من عبد الطاغوت، أي أطاع الشيطان فيما سوّل له “Yaitu menjadikan bagian dari mereka, yaitu orang yang menyembah toghut’, yaitu orang yang mentaati apa yang di bujukkan syaiton kepadanya.” [Ma’alimu Tanzil, 3/75, Abu Muhammad Al Husain Ibnu Mas’ud Al Baghawi, dengan tahqiq Muhammad bin Abdullah, Utsman & Sulaiman Muslim, Dar Toybah Lin Nasyr wa Tauzi, Cet. Ke 4 Th. 1997] Sedangkan Ibnul Jauzi mengatakan “Yang di maksud dengan toghut’ dalam ayat ini ada dua pendapat, pertama maksudnya adalah berhala, dan yang ke dua maksudnya adalah syaiton.” [Zaadul Masiir 2/232 Maktabah Syamilah] Kita dapatkan dari penjelasan di atas bahwa makna toghut’ pada ayat ini adalah syaiton atau berhala. Ayat yang ke lima وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan rasul-rasul.” QS An Nahl 36 Sedangkan makna toghut’ pada ayat ini As Samarqandi menjelaskan “{dan jauhilah Thaghut itu} maksudnya adalah tinggalkanlah peribadatan kepada toghut’, yaitu syaiton, berhala, dan dukun,.” [Bahrul Ulum 2/464 Maktabah Syamilah] Asyinqiti mengartikan kata toghut’ berkaitan dengan ayat ini yaitu segala sesuatu yang di sembah selain dari pada Alloh. [lihat Adwaul Bayan pada penjelasan seputar ayat diatas] Maka lagi-lagi kita dapatkan makna toghut’ pada ayat ini adalah syaiton, berhala atau dukun. Dengan tambahan dari As Syinqiti makna secara umumnya adalah segala sesuatu yang di sembah selain dari pada Alloh. Ayat yang ke enam وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِ “Dan orang-orang yang menjauhi thaghut yaitu tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku.” QS Az Zumar 17 Pada ayat ini Ibnu Katsir memberikan penjelasan “Telah berkata Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari bapaknya {“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut yaitu tidak menyembahnya”}, bahwa ayat ini turun khusus kepada Zaid bin Amr bin Nufail, Abu Dzar, dan Salman Al Farisi. Namun yang benar adalah bahwa ayat ini mencakup mereka bertiga dan orang-orang selain mereka yang menjauhi peribadatan kepada berhala. Maka merekalah orang-orang yang di berikan kabar gembira dalam kehidupan mereka di dunia dan di akhirat.” [Tafsirul Qur’anil Adhim 7/90 tahqiq Samiy bin Muhammad Salamah, Dar Toybah Lin Nasyr wa Tauzi cet. Ke 2 Th. 1999] Sedang As Syaukani menjelaskan makna toghut’ di sini adalah berhala syaiton, dukun atau peramal. Ada pula yang menjelaskan makna toghut di sini nama orang Ajam selain arab seperti nama Jalut dan Tolut. [lihat Fatkhul Qadir 6/227 Maktabah Syamilah] Tidak kita nafikan memang salah satu penafsiran kata thaghut’ di dalam Al Qur’an adalah pemimpin yang tidak berhukum dengan hukum Alloh’. atau orang yang tidak berhukum dengan hukum Alloh’. Namun akan menjadi lain persoalan jika semua kata thaghut” di dalamnya di maknakan dengan makna yang sama, apalagi di jadikan hujjah untuk keluar dari ketaatan kepada pemimpin hanya karena alasan tidak berhukum dengan hukum Alloh. Ini di karenakan tidak semua orang yang tidak berhukum dengan hukum Alloh bisa kita vonis dengan vonis kafir. [Abu Ruqoyyah] *** Mengenai seseorang yang berhukum dengan hukum selain hukum Alloh apakah boleh kita hukumi sebagai kafir atau bukan, silahkan lihat disini.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah menyebutkan firman Allah yang lain yang terdapat dalam surah An-Nahl, Allah Subhanahu wata’ala berfirman وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan rasul-rasul”. QS. An-Nahl 35. Ulama kita menyebutkan beberapa perbedaan antara Nabi dan Rasul, Rasul diutus kepada ummat yang menentang dakwahnya, adapun Nabi diutus kepada ummat yang menerima dakwahnya, adapula yang mengatakan Rasul adalah yang membawa syariat yang baru dan menghapuskan syariat sebelumnya, adapun Nabi yang melanjutkan syariat Nabi selanjutnya, ini diantara perbedaan yang disebutkan oleh para ulama kita, jadi setiap Rasul adalah Nabi namun tidak semua Nabi itu Rasul. Rasul pertama adalah Nuh Alaihissalam sebagaimana dalam hadist syafaat pada hari kiamat ketika orang – orang datang kepada Nabi Adam Alaihissalam meminta syafaat untuk segera diadili dihadapan Allah Subhanahu wata’ala maka Nabi Adam mengatakan”Diriku, diriku, sesungguhnya hari ini Allah sangat murka dan Allah tidak pernah murka seperti kemurkaannya hari ini dan tidak akan pernah murka seperti hari ini setelahnya, berangkatlah kalian kepada Nabi Nuh karena sesungguhnya dia adalah Nabi yang pertama”. Dakwah para Rasul adalah sembalah Allah Subhanahu wata’ala dan jauhi thaghut Pemimpin para thaghut adalah Iblis, dialah yang menyesatkan manusia yang menjadi sesembahan selain Allah Subhanahu wata’ala Al Ummah dalam Al-Qur’an ada beberapa makna dan yang kita pahami ketika dikatakan ummat adalah sekelompok manusia, adapun makna yang lain sebagaimana yang Allah sebutkan pada surah An Nahl ayat 120 ketika Allah mensifatkan Nabi Ibrahim Alaihissalam إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”. QS. An-Nahl 120. Yang dimaksud Ummah dalam ayat ini adalah Imam atau Pemimpin, Nabi Ibrahim adalah Imam dan Pemimpin, terkadang ada orang cuma satu akan tetapi seperti satu ummat seperti para ulama bahkan dalam atsar disebutkan kematian satu kampung lebih baik dari pada kematian seorang alim dan syaithan lebih takut kepada seorang alim yang tidur dari pada seorang ahli ibadah yang sementara beribadah, Perkataan ini ada kebenaran karena memang berdasarkan ilmu yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam seorang diri namun disifatkan oleh Allah Subhanahu wata’ala didalam Al-Qur’an sebagai Imam. Ummah juga mengandung arti Al-Millah agama/petunjuk sebagaimana firman Allah dalam surah Az-Zuhruf وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. QS. Az-Zuhruf 23. Dantara talbis Iblis yaitu ketika telah nyata dalil sampai kepada seseorang dari Al-Qur’an dan Sunnah serta ijma Salaful Ummah kemudian ada yang masih berat menerima kebenaran itu dengan berkata”Apa yang saya dapatkan ini sudah turun-temurun dari nenek moyang saya”, ini hujjah orang – orang kafir Quraisy, oleh sebab itu sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah hendaknya berjalan sesuai dengan dalil Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam serta kembali kepada kebenaran, bukanlah aib ketika seseorang berada dalam kesesatan kemudian kembali kepada kebenaran bahkan ia adalah keutamaan sebagaimana perkataan Umar Radhiyallahu anhu”Kembali kepada kebenaran lebih baik dibandingkan / ketimbang seseorang terus menerus berada dalam kebathilannya”. Ummah juga dalam Al-Qur’an mengandung makna zaman / waktu sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala tentang kisah Nabi Yusuf Alaihissalam yang disebutkan didalam Al-Qur’an وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ أَنَا أُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِهِ فَأَرْسِلُونِ “Dan berkatalah orang yang selamat diantara mereka berdua dan teringat kepada Yusuf sesudah beberapa waktu lamanya “Aku akan memberitakan kepadamu tentang orang yang pandai mena’birkan mimpi itu, maka utuslah aku kepadanya”. QS. Yusuf 45. Kisahnya ketika 2 narapidana dimasukkan ke dalam sel/tahanan dengan Nabi Yusuf, lalu kedua orang ini mimpi dengan mimpi yang berbeda, adapun yang pertama bermimpi memberi minum kepada tuannya kemudian yang kedua bermimpi membawa makanan diatas kepalanya kemudian dipatok oleh seekor burung, Nabi Yusuf memberi ta’wil bahwasanya yang pertama akan dibebaskan kemudian akan menjadi pelayan raja di istana, adapun ta’wil mimpi yang kedua dia akan dibunuh, ta’wil mimpi yang ditafsirkan oleh Nabi Yusuf terjadi diantara keduanya. Nabi Yusuf berpesan kepada yang akan dibebaskan”Sampaikan tentang saya kepada tuanmu atau sang raja“, namun setelah ia keluar dari penjara ia dibuat lupa oleh syaithan dan ia tidak mengingat kecuali setelah waktu yang lama yaitu setelah sang raja mengalami mimpi, seluruh penta’wil mimpi yang ada diistana bingung dengan mimpi yang dialami oleh sang raja dan ketika mereka berbincang dengan mimpi sang raja barulah narapidana yang kini menjadi pelayan sang raja mengingat bahwasanya dahulu ia memiliki mimpi yang dita’wil oleh Nabi Yusuf, sehingga ia baru menyampaikan pesan Nabi Yusuf kepada sang raja, sebagaimana yang disebutkan dalam kisah Nabi Yusuf dalam surah Yusuf. Inti pembahasan Dakwah para Nabi dan Rasul adalah satu yaitu mengajak untuk menyembah Allah Subhanahu wata’ala dan menjauhi thaghut, Diantara beberapa hikmah Allah Subhanahu wata’ala mengutus Nabi dan Rasul sebagai berikut Allah ingin menegakkan hujjah kepada manusia, Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam surah An-Nisaa pada ayat 165 رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا “Mereka Kami utus selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. QS. An-Nisaa 165. Nabi diutus ditengah manusia sebagai rahmat bagi mereka sebagaimana dalam firman Allah dalam Surah Al-Anbiya وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”. QS. Al-Anbiya 107. Jadi islam walaupun diturunkan dinegeri Arab namun ajarannya meliputi seluruh alam, bahkan Allah Subhanahu wata’ala mengutus Nabi kita Muhammad untuk jin dan manusia, dalam surah Ar Rahman ketika Allah mengulangi firmannya فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”. QS. Ar-Rahman 13. Ini khitab untuk para jin dan manusia dan Rasulullah menceritakan kepada para sahabat bahwasanya“Telah didatangkan kepadaku bangsa Jin mereka mendengarkan apa yang saya sampaikan dan mereka lebih cepat menerima dari pada kalian”. Nabi dan Rasul diutus untuk menjelaskan jalan agar kita bisa sampai kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan selamat. Adapun yang dimaksud dengan At Thagut yang berasal dari kata طَغَى artinya melampaui batas sebagaimana firman Allah yang mensifatkan kaum Nabi Nuh ketika dihantam dengan air banjir bah, Allah Subhanahu wata’ala berfirman إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ “Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik sampai ke gunung Kami bawa nenek moyang kamu, ke dalam bahtera”. QS. Al-Haqqah 11. Definisi Thagut Secara istilah syar’i yaitu sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah “Thaghut adalah segala sesuatu yang menyebabkan seorang hamba melebihi batasannya, baik itu sesuatu yang diibadahi, diikuti, atau ditaati”. Awal kesyirikan semuanya disebabkan karena ghuluw atau melampaui batas, sebagaimana kesyirikan yang terjadi dizaman Nabi Nuh, mereka berbuat syirik disebabkan karena ghuluw kepada orang – orang sholeh, begitupula kesyirikan yang terjadi pada ummat Nabi Isa Alaihissalam disebabkan karena mereka ghuluw kepada Nabi Isa Alaihissalam, oleh karenanya Nabi melarang kita ghuluw sampai kepada beliau, Dari Ibnu Abbas, dia mendengar Umar berkata di atas mimbar Saya mendengar Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda “Janganlah kalian terlalu berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan kepada Isa bin Maryam, sesunggunhya aku hanyalah seorang hamba Allah maka katakanlah hamba Allah dan RasulNya”. HR. Al-Bukhari no 3445, 6830. Perkataan pertama yang keluar dari mulut Nabi Isa ketika beliau masih dalam buaian kemudian ibunya dituduh melakukan perbuatan zina oleh kaumnya, Nabi Isa berkata sebagaimana dalam firman Allah قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا Berkata Isa”Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab Injil dan Dia menjadikan aku seorang nabi,” QS. Maryam 30. mengapa beliau tidak mengatakan aku adalah Nabi Allah atau Rasul Allah..? karena beliau tahu dan ini hikmah dari Allah bahwasanya nanti akan ada yang menuhankan beliau, olehnya sejak awal beliau bantah hal tersebut dengan berkata”Sesungguhnya aku ini hamba Allah”. Nabi Isa tidak gengsi untuk menjadi hamba Allah Subhanahu wata’ala. Pada hari kiamat Allah berkata kepada Nabi Isa”Wahai Nabi isa apakah benar engkau mengatakan jadikan aku dan ibuku yang disembah selain Allah”, Nabi Isa berkata”Maha suci engkau Ya Allah, tidak mungkin saya mengatakan perkataan yang seperti itu tidaklah aku berkata kepada mereka agar mereka menyembah engkau dan dulu ketika aku masih hidup saya menjadi saksi Ya Allah tetapi ketika engkau wafatkan aku dan angkat kelangit, engkaulah yang mengawasi mereka adapun saya tidak tahu apa yang mereka lakukan setelah kematianku”, ini menunjukkan bahwa Nabi dan Rasul setelah kematian mereka tidak mengetahui perkara – perkara yang ghaib, tidak mengetahui perkara yang dilakukan oleh ummat – ummat mereka setelah mereka meninggal sebagaimana Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dihari kemudian ketika beliau telah berada ditelaga yang telah disiapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk beliau, semua ummatnya datang minum ke telaga beliau yang kata beliau siapa yang meminum dari telaga itu tidak akan merasakan haus setelahnya, Ada diantara ummat beliau yang terhalangi untuk minum ditelaga beliau bahkan diusir untuk menjauh dari telaga. Melihat hal tersebut Rasulullah berkata”Ya Allah mereka ummatku”, Allah Subhanahu wata’ala berkata”Engkau tidak tahu wahai Muhammad apa yang mereka lakukan setelah engkau meninggal”, akhirnya Rasulullah berkata”Menjauh, menjauh, sungguh celaka orang yang mengubah ajaranku setelah kematianku”. Wallahu a’lam Bish Showaab
Ilustrasi thaghut adalah, foto PixabaySecara umum thaghut adalah berhala atau segala sesuatu yang disembah selain Allah. Namun, thaghut memiliki makna dan bentuk yang sangat buku Ahlussunnah Wal Jamaah karya Fatih Syuhud, dalam Alquran Allah menyebut kata thaghut secara spesifik sebanyak delapan kali. Hal ini semakin menekankan bahwa thaghut merupakan salah satu dari perusakan akidah yang harus dihindari oleh umat Muslim.“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah thaghut." QS. An Nahl36Pada ayat tersebut, Allah memerintahkan manusia untuk menjauhi thaghut dan mengikuti ajaran yang dibawah oleh para Rasul. Untuk mengetahui lebih dalam soal thaghut, simak penjelasan di bawah Thaghut menurut Ulama TafsirIlustrasi thaghut adalah, foto PixabayMengutip jurnal ilmiah berjudul Konsep Thaghut dalam Al-Quran karya Andriansyah, thaghut adalah sebuah sifat yang menggambarkan penyembahan kepada selain Allah dalam berbagai bentuk. Sehingga thaghut tidak hanya mengacu pada berhala atau patung yang disembah, namun juga dapat mencakup manusia, jin, dan semakin memahami makna dari thaghut, akan dijabarkan pengertian thaghut menurut para ahli Tafsir berikut Pendapat Sayyid QuthbMenurut Sayyid Quthb, thaghut adalah segala sesuatu yang melampaui kesadaran, melanggar kebenaran, dan melampaui batas yang telah ditetapkan oleh Allah kepada manusia. Lebih jauh beliau menyebutkan bahwa thaghut juga dapat diartikan sebagai paham, undang-undang, atau tradisi yang tidak berpijak pada syariat Pendapat M. Quraish ShihabM. Quraish Shihab berpendapat bahwa thaghut adalah sebuah perbuatan yang melampaui batas keburukan. Thaghut juga memiliki pengertian sebagai perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan Allah. Sehingga, makna thaghut juga dapat melekat pada seorang pemimpin yang berperilaku zalim kepada Pendapat Ibnu ManzurAllah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 51 yang berbunyi“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari al-kitab? Mereka percaya pada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang kafir musyrik mekah, bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman." QS. An-Nisa 51Menurut Ibnu Manzhur, makna thaghut yang terkandung dalam surat An-Nisa ayat 51 merujuk pada seorang pemimpin Nasrani yang kemudian dianggap sebagai Tuhan. Sehingga, orang-orang ahli kitab mengikuti dan tunduk pada setiap pada tafsir ayat tersebut, maka thaghut dapat diartikan sebagai seorang pemimpin yang tidak menjalankan perintah Allah. Serta menyesatkan pengikutnya dari akidah Pendapat Buya HamkaThaghut menurut Buya Hamka adalah pelanggar, yakni segala perbuatan yang tidak berdasar pada keimanan kepada Allah. Sehingga thaghut dapat berbentuk manusia yang didewakan, atau pemimpin yang ditakuti perintahnya, atau syaitan, atau berhala yang Pendapat Khairul GhazaliSedangkan menurut Khairul Ghazali, thaghut adalah sesuatu yang bersifat menyesatkan manusia dari menyembah Allah serta menjerumuskan manusia dalam kemaksiatan. Thaghut terbagi menjadi dua, yakniThaghut sebagai objek. Artinya mengacu pada sesuatu yang berperan menyesatkan manusia, seperti setan, berhala, dukun, dan tukang sebagai subjek. Maknanya adalah suatu perbuatan yang melanggar syariat dan bertujuan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah, seperti ganja, riba, dan minuman saja contoh thaghut?Apa hukum mengingkari Allah?Bagaimana cara menahan diri dari thaghut?
Nahl Ayat 35 Dari ayat ini sehingga ke ayat 89 adalah Perenggan Makro ke 3 surah ini. Tapi ia terbahagi kepada 7 bahagian kerana perenggan ini agak panjang. Dari ayat ini ke ayat 40 adalah jawapan kepada pihak yang menolak risalah dan hari akhirat. Ayat 35 ini adalah Ayat Syikayah. Allah memberitahu dalil bodoh yang digunakan oleh golongan musyrik. Mereka menjadikan kehendak Allah sebagai tanda keredhaanNya dan Allah jawab salah faham mereka itu dalam ayat ini. وَقالَ الَّذينَ أَشرَكوا لَو شاءَ اللَهُ ما عَبَدنا مِن دونِهِ مِن شَيءٍ نَحنُ وَلا آباؤُنا وَلا حَرَّمنا مِن دونِهِ مِن شَيءٍ ۚ كَذٰلِكَ فَعَلَ الَّذينَ مِن قَبلِهِم ۚ فَهَل عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا البَلاغُ المُبينُ SAHEEH INTERNATIONAL And those who associate others with Allāh say, “If Allāh had willed, we would not have worshipped anything other than Him, neither we nor our fathers, nor would we have forbidden anything through other than Him.” Thus did those do before them. So is there upon the messengers except [the duty of] clear notification? MELAYU Dan berkatalah orang-orang musyrik “Jika Allah menghendaki, nescaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami mahupun bapa-bapa kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa izin-Nya”. Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; maka tidak ada kewajipan atas para Rasul, selain dari menyampaikan amanat Allah dengan terang. Ayat seterusnya وَقالَ الَّذينَ أَشرَكوا Dan berkatalah orang-orang musyrik Orang yang mengamalkan syirik, tetap juga tidak mengalah dengan amalan mereka. Walaupun telah diberitahu kesalahan amalan dan fahaman mereka, mereka tetap juga tidak mahu mendengar hujah dan dalil yang diberikan. Ini pula hujah mereka. Ayat seterusnya لَو شاءَ اللَهُ ما عَبَدنا مِن دونِهِ مِن شَيءٍ “Jika Allah menghendaki, nescaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, Mereka sebut nama Allah, menunjukkan yang mereka ini jenis orang yang kenal Allah itu Tuhan. Tetapi mereka masih juga melakukan syirik. Maka, tidak hairanlah kalau musyrikin ini adalah orang Islam yang kenal Allah. Mereka beriman kepada Allah, tetapi dalam masa yang sama, mereka ada fahaman dan amalan syirik. Ini adalah kerana mereka tidak belajar wahyu, maka mereka telah ditipu oleh syaitan yang mengajar ajaran-ajaran sesat kepada mereka. Untuk membenarkan amalan mereka yang syirik itu, mereka telah berhujah seperti yang Allah firmankan dalam ayat ini. Ini adalah kerana Allah tahu apakah yang berada di dalam hati mereka. Memang selalunya hujah orang-orang yang melakukan syirik ini Allah telah siap berikan di dalam Qur’an. Kita hanya cuma perlu semak sahaja. Dan orang musyrik itu tidak sedar bahawa hujah mereka ada dalam Qur’an. Mereka katakan bahawa apa yang mereka lakukan itu Allah redha dan ini adalah takdir’. Mereka berkata bahawa jikalau Allah tidak suka, tentu mereka tidak lakukan apa yang mereka lakukan itu; maknanya, mereka sangka, kerana tiada apa-apa halangan mahupun hukuman yang Allah timpakan kepada mereka, maka mereka rasakan amalan dan fahaman mereka itu benar. Mereka sangka, kerana Allah tidak beri apa-apa tanda yang ianya salah tidak sakit perut, jatuh sakit, kena panah petir dan sebagainya, jadi tentulah apa yang mereka lakukan itu benar. Mereka katakan lagi, Allah tidak ganggu apa yang mereka lakukan itu kerana Allah suka apa yang mereka lakukan. Dengan kata lain, perkataan mereka mengandungi kesimpulan bahawa seandainya Allah SWT tidak suka dengan apa yang mereka lakukan, tentulah Allah mengingkari perbuatan itu dengan menurunkan hukuman, dan tentulah Dia tidak akan memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukannya. Maknanya, mereka kata apa yang mereka buat itu adalah atas kehendak Allah. Ayat seterusnya نَحنُ وَلا آباؤُنا baik kami mahu pun bapa-bapa kami, Baik kami dan tok nenek kami. Mereka kata, “kalau ianya salah, tok nenek kami juga tidak akan lakukan. Tetapi tok nenek golongan terdahulu ramai yang lakukan, sehingga ia menjadi amalan turun temurun. Mustahil mereka salah juga? Adakah kamu mahu mengatakan bahawa mereka itu sesat?” Begitulah hujah mereka. Dan hujah tok nenek ini memang selalu digunakan. Maka kalau ada yang mengatakan amalan itu sudah lama ada di dalam masyarakat, beritahu mereka yang hujah mereka itu sama seperti hujah orang kafir yang Allah sampaikan dalam Qur’an. Beritahu mereka “eh, hujah awak ini samalah dengan hujah orang kafir, awak tidak tahu kah?”. Memang dia tidak tahu kerana dia tidak belajar tafsir Qur’an. Ayat seterusnya وَلا حَرَّمنا مِن دونِهِ مِن شَيءٍ dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa izin-Nya”. Mereka katakan lagi, kalau Allah tidak benarkan, tentulah mereka tidak haramkan perkara yang halal. Kalau tok nenek haramkan, tentulah ia ada sandaran mereka tidak tahu sandaran apa, mereka terima sahaja tanpa usul periksa. Perbuatan mengharamkan yang halal adalah perbuatan kufur. Kerana Allah sahaja yang boleh jatuhkan hukum halal dan haram. Kalau kita haramkan yang halal, maka itu sudah ambil kerja Tuhan. Bagaimana agaknya kalau ambil kerja Tuhan? Tentu berat hukumannya, bukan? Antara contoh mengharamkan yang halal adalah amalan berpantang masyarakat kita sekarang. Apabila ada wanita bersalin, maka mereka akan pantang haramkan pemakanan makanan tertentu. Ianya tanpa hujah, tetapi kerana bidan dari dahulu lagi sudah ajar begitu, mereka ikut sahaja. Ayat seterusnya كَذٰلِكَ فَعَلَ الَّذينَ مِن قَبلِهِم Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; Allah beritahu, begitulah hujah yang dikatakan oleh orang-orang dahulu. Waktu itu diulang oleh Musyrikin Mekah. Dan sekarang diulang oleh Musyrikin Malaysia pula. Semuanya kerana ikut-ikutan sahaja dan tidak tahu tentang wahyu. Dan begitulah amalan masyarakat sebelum kita yang ikut amalan dari tok nenek mereka. Mereka kata perbuatan mereka itu telah ditakdirkan oleh Allah – maka tidak salah lah kalau begitu. Jadi kita harus faham benar-benar beza antara kehendak’ dan redha’. Memang Allah bagi mereka lakukan amalan itu, tanpa dikenakan azab semasa di dunia. Tetapi tidak semestinya Allah benarkan ia terjadi, menjadi hujah yang Allah redha’. Kerana Allah benarkan sahaja perbuatan jahat seseorang, tetapi dalam masa yang sama, Allah tidak redha. Kerana kalau orang mahu sesat, Allah biarkan sahaja. Allah tunggu di akhirat kelak untuk hukum dan azab mereka. Sebagai satu contoh, sihir adalah suatu perbuatan yang haram. Ianya sudah tentu salah, tetapi Allah benarkan ia terjadi, bukan? Adakah Allah redha? Tentu tidak. Allah benarkan sihir terjadi setelah pengamalnya melakukan proses-proses tertentu. Tetapi Allah pasti tidak redha dengan sihir. Ayat seterusnya فَهَل عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا البَلاغُ المُبينُ maka tidak ada kewajipan atas para rasul, selain dari menyampaikan dengan terang. Beritahu mereka kalau kamu dengar wahyu yang disampaikan oleh Rasul, kamu tidak akan cakap perkara seperti ini. Apabila kamu lakukan perkara sebegini, ini bermakna hati kamu yang tidak baik. Mereka kononnya berkata bahawa Allah tidak engkari apa yang mereka telah lakukan itu. Padahal sebenarnya Allah telah mengengkari perbuatan mereka dengan tindakan yang keras, dan Dia telah melarang manusia melakukannya dengan larangan yang kuat. Iaitu Dia telah mengutus seorang Rasul kepada setiap umat, memberitahu mana boleh lakukan dan mana tidak. Rasul tidak boleh hendak halang kamu dari melakukan apa yang kamu lakukan, kerana tugas Rasul hanya menyampaikan. Dan Rasul telah menjalankan tugas mereka – yang tidak terima dan dengar itu adalah kerana degil sahaja. Ayat seterusnya Nahl Ayat 36 Dalil naqli ijmali dan takhwif duniawi. وَلَقَد بَعَثنا في كُلِّ أُمَّةٍ رَسولًا أَنِ اعبُدُوا اللَهَ وَاجتَنِبُوا الطّاغوتَ ۖ فَمِنهُم مَن هَدَى اللهُ وَمِنهُم مَن حَقَّت عَلَيهِ الضَّلالَةُ ۚ فَسيروا فِي الأَرضِ فَانظُروا كَيفَ كانَ عاقِبَةُ المُكَذِّبينَ SAHEEH INTERNATIONAL And We certainly sent into every nation a messenger, [saying], “Worship Allāh and avoid ṭāghūt.”¹ And among them were those whom Allāh guided, and among them were those upon whom error was [deservedly] decreed. So proceed [ travel] through the earth and observe how was the end of the deniers. False objects of worship. MELAYU Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan rasul-rasul. Ayat seterusnya وَلَقَد بَعَثنا في كُلِّ أُمَّةٍ رَسولًا Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat Ada penekanan di dalam ayat ini dengan penggunaan kalimah لقد kerana ada dua penekatan harf ل dan kalimah قد. Maka ada perkara penting yang Allah hendak sampaikan di sini yang kita kena beri perhatian. Allah cipta manusia dan tidak biarkan mereka terkontang kanting dalam dunia ini tanpa petunjuk. Allah bangkitkan Rasul dan Nabi di setiap kaum. Apabila kalimah كل digabungkan dengan isim nakirah kalimah dalam bentuk umum seperti أمة di dalam ayat ini, bermakna semua umat mendapat Rasul tanpa pengecualian. Sekurang-kurangnya mereka mendapat seorang Rasul mungkin ada yang dapat lebih lagi. Semua mendapat peluang untuk menerima ajaran agama. Selain dari itu, Allah telah menurunkan wahyu yang disampaikan melalui para Rasul. Dan Rasul terakhir adalah Nabi Muhammad, dan kita adalah umat baginda. Walaupun kita tidak dapat berjumpa dengan Nabi Muhammad, tetapi ajaran baginda telah sampai kepada kita melalui hadis dan ajaran guru-guru agama. Tidak ada alasan mengatakan kita tidak dapat ilmu yang disampaikan daripada baginda. Ayat seterusnya أَنِ اعبُدُوا اللَهَ “Sembahlah Allah, Kalimah أن di sini adalah untuk menjelaskan kenapa para Rasul itu diutuskan. Maka tahulah kita apakah ajaran yang disampaikan oleh setiap Rasul kepada umat mereka. Ada dua perkara utama. Yang pertama adalah perintah dan keduanya ada larangan. Dan kedua-duanya di dalam bentuk fi’il amr kata arahan, maka ia adalah sesuatu yang wajib kita lakukan. Maka perintahnya di sini iaitu beribadatlah, serulah, hanya kepada Allah sahaja. Maksudnya apa? Itulah kita mengesakan Allah dan kita kena taat kepada Allah dengan mengikuti segala suruhanNya dan meninggalkan segala laranganNya, dalam keadaan merendah diri dan penuh kehinaan dalam perasaan takut, cinta dan harap. Inilah yang disampaikan oleh para Nabi sedang sebelum ini orang kafir kata apa yang mereka buat itu adalah apa yang Allah suka. Tidak mungkin Nabi ajar berlainan dengan apa yang Allah hendak, pula? Maka amalan orang kita pun kenalah diperiksa dengan dalil Al-Qur’an dan hadis. Ayat seterusnya وَاجتَنِبُوا الطّاغوتَ dan jauhilah Thaghut”, Sekarang disebut larangan pula. Maka kita bukan sahaja harus sembah dan seru kepada Allah, tetapi harus jauhkan dari sembahan dan seruan kepada taghut. Jangan pula lakukan dua-dua – sembah Allah dan sembah taghut pula. Kalimah اجتب itu bermaksud kena pastikan duduk di sebelah yang lain. Jangan jauh sahaja, tapi duduk di sebelah yang sama. Kena pastikan dia duduk sebelah sana, kita duduk sebelah sini. Ini kerana ia dari katadasar ج ن ب yang antara lain bermaksud sebelah’. Sebab itu kalau terjemahan Bahasa Melayu yang lama hendaklah kamu berseberang dari Taghut. Dan meninggalkan Taghut itu adalah tauhid. Kerana tidak mungkin kita boleh menjauhi Taghut melainkan dengan mentauhidkan Allah. Kedua-duanya kena berlaku serentak dan bersama. Tidak boleh buat satu sahaja. Ini masalah dengan orang kita, dua-dua mereka lakukan. Mereka beriman dengan Allah dan segala yang perlu diimani; tapi dalam masa yang sama, fahaman syirik pun mereka amalkan juga. Sedangkan dalam agama, kena ada nafi dan ithbat. Kena nafikan benda yang salah – seperti taghut, syirik dan bid’ah. Dan kena tetapkan ajaran yang benar iaitu ajaran Tauhid. Apakah pula taghut itu? Kita telah pernah jelaskan di dalam Nisa’51. Ia diambil dari kalimah تغيان yang bermaksud melepasi had atau melebihi had dari segi bahasa. Dari segi syariat, ada dua makna taghut. Makna khusus adalah syaitan. Makna am yang lebih umum pula adalah syaitan dan pengikutnya. Dihimpunkan maknanya yang terbaik adalah setiap apa yang dilanggari sempadannya oleh seseorang hamba sama ada disembah, atau diikuti, atau ditaati.’ Maka taghut terbahagi kepada 3 jenis 1. Yang disembah. Setiap apa yang disembah selain dari Allah. 2. Yang diikuti. Setiap apa yang diikut yang menyelisihi Sunnah Rasulullah. 3. Yang ditaati. Setiap apa yang ditaati yang menyalahi perintah Allah dan RasulNya. Jadi secara praktikalnya taghut ini boleh jadi banyak perkara. Sebagai contoh, kenduri arwah, tahlil arwah, tekong yang mengendalikan majlis itu pun taghut belaka. Taghut itu tidak semestinya kafir. Ramai yang bersangkaan salah yang semua taghut itu kafir. Tapi taghut itu mungkin sahaja maksiat sahaja tanpa mengeluarkan seseorang itu dari Islam. Tapi kita tetap kena tinggalkan taghut sama ada ianya haram atau makruh. Dan tentunya yang paling besar adalah syirik yang kena ditinggalkan keseluruhannya. Jadi ayat ini menjadi dalil bagi kewajipan kepada Tauhid. Ayat seterusnya فَمِنهُم مَن هَدَى اللهُ maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Ada dari kalangan umat Rasul itu yang mahu beriman. Selalunya mereka ini tidak ramai. Dan mereka selalunya dari kalangan orang-orang yang lemah dan miskin. Tetapi mereka masih sanggup untuk menerima kebenaran. Merekalah yang menjadi pembantu kepada Rasul-rasul mereka dan mereka selalu akan menjadi orang yang ditindas dan diperlakukan dengan teruk. Ini adalah kerana golongan penentang selalunya adalah golongan yang kuat dan berkuasa dalam masyarakat. Ayat seterusnya وَمِنهُم مَن حَقَّت عَلَيهِ الضَّلالَةُ dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Tetapi ramai dari kalangan manusia yang tidak mahu beriman. Mereka ini lebih banyak dari bilangan mereka yang beriman. Walaupun telah diberikan dengan berbagai hujah, dalil dan tanda kebenaran, mereka masih juga tidak mahu terima. Telah pasti kesesatan ke atas mereka kerana kesalahan kepada diri mereka sendiri. Ini adalah kerana mereka tidak membuka hati mereka kepada kebenaran. Mereka ada rasa ragu-ragu kepada kebenaran yang disampaikan oleh Rasul mereka. Keraguan adalah perkara biasa sahaja, kerana bukan semua manusia terus beriman. Tetapi apabila ragu-ragu, haruslah dapatkan maklumat yang sebenarnya – kena dengar, fikir dan buat keputusan. Jangan terus berada dalam keraguan itu. Dan janganlah menentang penyebar tauhid. Kerana kalau mereka menentang, maka kesesatan itu mereka memang patut dapat. Ayat seterusnya فَسيروا فِي الأَرضِ Maka berjalanlah kamu di muka bumi Kepada mereka yang tidak mahu percaya kepada kebenaran wahyu, maka Allah suruh mereka berjalan di dunia ini. Ambil masa dan tengok alam ini serta fikir-fikirkan. Maka memang ada kelebihan kalau berjalan di atas muka bumi ini. Kerana banyak perkara kita boleh dapat tahu. Ayat seterusnya فَانظُروا كَيفَ كانَ عاقِبَةُ المُكَذِّبينَ dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan Tengoklah kesan orang-orang dahulu yang telah dikenakan dengan azab kerana menolak wahyu dan Rasul mereka. Allah berikan azab yang amat menghinakan dan Allah hapuskan terus keturunan mereka. Ini begitu mudah sahaja bagi Allah untuk lakukan. Saranan ini kepada orang yang tidak mahu percaya sahaja. Kepada kita yang percaya, tidak perlu pergi ke tempat-tempat sebegitu. Kerana ada larangan daripada Nabi untuk pergi ke tempat-tempat yang telah dikenakan dengan azab itu. Ayat seterusnya Nahl Ayat 37 Ayat tasliah kepada Nabi. إِن تَحرِص عَلىٰ هُداهُم فَإِنَّ اللَهَ لا يَهدي مَن يُضِلُّ ۖ وَما لَهُم مِن ناصِرينَ SAHEEH INTERNATIONAL [Even] if you should strive for their guidance, [O Muḥammad], indeed, Allāh does not guide those He sends astray,¹ and they will have no helpers. As a result of their choice to reject guidance. MELAYU Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong. Ayat seterusnya إِن تَحرِص عَلىٰ هُداهُم Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, Sebagai seorang Rasul yang sedar kesan buruk kalau menolak kebenaran, Nabi Muhammad amat berharap supaya semua umat baginda menerima kebenaran. Baginda amat sedih apabila ramai yang menolak dakwah daripada baginda. Baginda telah berusaha siang dan malam, berjumpa dengan mereka secara terang-terangan atau secara bersembunyi. Tetapi masih ramai lagi yang tidak mahu beriman. Baginda amat risau jikalau ada kesilapan dalam cara dakwah baginda. Baginda sebagai seorang yang lembut hati, telah menyalahkan diri baginda. Maka Allah mahu memberitahu bahawa bukannya salah baginda. Allah tahu bahawa baginda amat berharap sangat supaya semua umat baginda beriman, tetapi tidak semestinya keinginan baginda itu akan diperolehi. Ayat seterusnya فَإِنَّ اللَهَ لا يَهدي مَن يُضِلُّ maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, Kerana akan ada yang tidak beriman sampai bila-bila. Walaupun baginda berusaha bersungguh-sungguh sekali pun untuk dakwah mereka, baginda tidak dapat keluarkan mereka dari kesesatan. Baginda tidak mampu melakukannya kerana hidayah itu datang dari Allah. Ada orang yang Allah telah tetapkan tidak akan beriman. Tapi bukanlah Allah buat keputusan untuk terus sesatkan mereka dari mula lagi. Mereka yang telah tetap akan disesatkan itu adalah kerana mereka telah sampai peringkat keempat kekufuran. Ini adalah kerana mereka telah diberi peluang berkali-kali untuk menerima dakwah, tetapi mereka menolak dan mereka menentang berkali-kali pula. Hingga sampai pada satu tahap, Allah akan buat keputusan Khatmul Qalbi, terus tutup hati mereka dari kebenaran hidayah. Waktu itu, walau apa pun yang terjadi, walau sesiapa pun yang dakwah mereka, mereka tidak akan dapat menerima hidayah. Ayat seterusnya وَما لَهُم مِن ناصِرينَ dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong. Apabila Allah telah membuat keputusan untuk tutup pintu hati mereka daripada kebenaran, tidak ada sesiapa pun yang dapat menyelamatkan mereka dari kesesatan – sama ada Rasul, ahli keluarga atau kawan-kawan mereka sekali pun. Mereka itu Allah telah tulis sebagai ahli neraka. Tunggu masa untuk mati dan dikenakan dengan azab sahaja. Sama halnya dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya {وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا} Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun yang datang dari Allah. Al-Maidah 41 Allahu a’lam. Sambung ke tafsir yang seterusnya. Kemaskini 30 Mac 2023 Rujukan Maulana Hadi Nouman Ali Khan Tafsir Ibn Kathir Mutiara al-Qur’an
sembahlah allah dan jauhilah thaghut